Hero Image

News & Info

Subjek Hak Atas Tanah

Berikut informasi mengenai " Subjek Hak Atas Tanah " :

 

 

Berapa Biaya PBB untuk Penghuni Apartemen?

Ada banyak hal yang harus Anda perhatikan ketika memutuskan pindah ke hunian vertikal seperti apartemen. Selain adaptasi karena kapasitas ruangan yang lebih kecil dari rumah tapak, Anda juga harus mulai terbiasa dengan membayar berbagai macam tagihan rutin.

Contohnya ongkos pemeliharaan atau maintenance fee gedung, biaya pemakaian listrik, dan sewa parkir. Pungutan tersebut adalah uang yang biasa harus Anda keluarkan rutin per bulan.

Namun, jangan lupa, walaupun berukuran kecil, Anda memiliki kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahun. Besarannya pun bervariasi tergantung luas bangunan apartemen, serta sarana dan prasarana yang digunakan.

Apartemen sendiri termasuk dalam bangunan strata title, yaitu gedung bersusun atau bertingkat yang digunakan bersama-sama. Namun, pada strata title ada bagian yang menjadi hak milik pribadi atas ruangan dan ada pula bagian yang merupakan hak bersama.

Ilustrasi parkir.

Ilustrasi parkir.(Thinkstock)

 

Beberapa fasilitas umum, seperti jalan, lift, tangga, kolam renang, dan area parkir, adalah contoh dari hak bersama. Sementara itu, masing-masing unit apartemen yang dimiliki seseorang merupakan milik pribadi. Nah, itu semua masuk dalam perhitungan biaya PBB.

Untuk perhitungan pajak bangunan strata title sendiri masuk dalam jenis PBB Sektor Perdesaan dan Perkotaan (P2). Menurut UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, PBB P2 masuk dalam pajak daerah kota atau kabupaten.

Lalu bagaimana perhitungan PBB-nya? Agar Anda tidak bingung, berikut adalah contoh perhitungan PBB yang dikutip dari bppk.kemenkeu.go.id, Senin (17/11/2014).

Sebuah apartemen di Kota Surabaya terdiri dari satu unit bangunan berdiri di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Hunian vertikal yang terdiri dari 10 lantai ini memiliki luas lantai bangunan 1.000 meter persegi per lantai, maka luas keseluruhan bagunan adalah 10.000 meter persegi (10 x 1.000 meter persegi).

Apartemen itu lalu terdiri dari 100 unit bangunan tipe 21, 100 unit tipe 36, dan 50 bangunan tipe 45. Jadi, luas masing-masing unit bangunan untuk tipe 21 sebesar 2.100 meter persegi (21 x 100), tipe 36 sebesar 3.600 meter persegi (36 x 100), dan tipe 45 sebanyak 2.250 (45 x 50).

Dengan begitu, total luas bangunan hunian adalah (2.100 + 3.600 + 2.250) = 7.950 meter persegi. Alhasil, luas bangunan bersama menghasilkan angka (10.000 – 7.950) = 2.050 meter persegi.

Adapun Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanahnya adalah Rp 3,1 juta per meter persegi dan bangunan Rp 4,2 juta per meter persegi.

 

Perhitungan PBB P2 sebelum pertelaan

Perhitungan PBB P2 sebelum pertelaan(Sumber gambar : http://www.bppk.kemenkeu.go.id/images/3c.jpg)

 

Dengan asumsi tarif PBB P2 di Kota Surabaya sebesar 0,1 persen untuk NJOP kurang dari Rp 1 miliar dan 0,2 persen buat NJOP di atas Rp 1 miliar. Lalu, Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) ditetapkan sebesar Rp 20 juta per wajib pajak, maka besaran PBB P2 terutang atas tanah dan bangunan adalah sebesar Rp 114.960.000.

Besaran itu adalah total PBB P2 dari gedung apartemen yang Anda tinggali. Sementara itu, untuk mengetahui nominal biaya PBB yang harus dibayar masing-masing pemilik unit, klik tautan berikut.

Bagaimana, sudah terbayangkah berapa besaran biaya PBB yang harus dibayar penghuni apartemen?

 

 

Sumber : http://properti.kompas.com/read/2017/09/23/172100321/berapa-biaya-pbb-untuk-penghuni-apartemen-

 

Biaya-Biaya yang Ada Dalam Proses Jual Beli Rumah

Transaksi jual beli rumah tidak terlepas dari banyaknya biaya-biaya untuk mengurusnya. Adapun, biaya-biaya tersebut ada yang resmi dibayarkan kepada negara atau pemerintah daerah dan ada juga biaya untuk pejabat yang melaksanakan jual beli tersebut, namun dapat dinegosiasikan. Biaya yang resmi dibayarkan tersebut seperti PPh, BPHTB, PNBP, sedangkan biaya lainnya, seperti biaya untuk PPAT. Lalu apa saja biaya-biaya yang harus dikeluarkan saat jual beli rumah? Berikut penjelasannya: 

 

 

1. Pengecekan Sertifikat

Pengecekan Sertifikat

Pengecekan Sertifikat via propertidata.com

 

Pengecekan sertifikat dilakukan sebelum transaksi jual beli rumah dilakukan, tujuannya adalah untuk memastikan bahwa sertifikat tidak ada catatan sita, catatan blokir atau catatan yang lainnya. Pengecekan sertifikat ini dilakukan di kantor pertanahan setempat, dan biaya tergantung dari masing-masing kebijakan kantor tersebut, dan biasanya biaya ini ditanggung oleh pembeli rumah, namun tentu hal ini sesuai dengan kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah. Untuk biaya pengecekan sertifikat ini sendiri tergantung kebijakan kantor pertanahan setempat.

 

 

2. Biaya Akta Jual Beli (AJB)

Akta Jual Beli

Akta Jual Beli via blogspot.com

 

Pembuatan akta jual beli atau yang biasa disingkat (AJB) juga memerlukan dana. Pembuat AJB adalah PPAT (Pejabat Pembuat akta tanah). Besarnya harga AJB (Akta jual beli) di PPAT itu berbeda-beda pada tiap-tiap daerah, Namun harga AJB tersebut tidak boleh lebih dari 1% dari harga transaksi yang tertera dalam Akta. Biaya AJB ini biasanya ditanggung oleh kedua belah pihak baik penjual maupun pembeli rumah, hal tersebut tentu harus sesuai dengan kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah.

Kebanyakan PPAT menarik biaya 1% dari nilai transaksi, tetapi harga ini tidaklah kaku sehingga klien bisa menawar harga tersebut sepanjang disetujui oleh PPAT. Biaya akta jual beli ini biasanya dibayarkan secara proporsional antara penjual dan pembeli. Namun tidak tertutup kemungkinan biaya akta jual beli ini dipikul oleh salah satu pihak sesuai kesepakatan para pihak.

 

 

3. Biaya Balik Nama

 Balik Nama Kepemilikan Rumah

Balik Nama Kepemilikan Rumah via 99.co

 

Balik nama sertifikat dilakukan di kantor pertanahan setempat. Proses balik nama diajukan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dengan membayar sejumlah biaya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Biasanya, biaya balik nama ini ditanggung oleh pembeli.

 

 

4. Biaya PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)

Biaya PNBP

Penerimaan Negara Bukan Pajak via slideplayer.info

PNBP dibayarkan sekaligus pada saat pengajuan Peralihan Hak atau Balik Nama. Besarnya PNBP ini 1 0/00 (satu per seribu/permill) dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah.

 

 

5. PPh (Pajak Penghasilan)

 Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan via restubpr.com

 

Besarnya PPh adalah 5% dari besarnya transaksi. PPh harus sudah dibayar sebelum AJB (akta jual beli) ditandatangani. Adapun biaya PPH dilakukan di bank penerima pembayaran transaksi jual beli rumah tersebut lalu kemudian di validasi di kantor pajak setempat. Pajak penghasilan ini biasanya dibebankan kepada penjual, sekali lagi itu tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah.

 

 

6. BPHTB (Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan)

Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan

Contoh Cara Pembayaran BPHTB via rumahminimalis.co

 

Biaya yang harus dikeluarkan berikutnya adalah Bea atas Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau yang biasa disingkat (BPHTB) dan Pajak penghasilan. Sedangkan besar biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar 5% dari nilai jual objek pajak atau NJOP. Pihak mengeluarkan biaya ini tentunya sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli rumah. Selain itu, BPHTB ini harus sudah dilunasi sebelum akta jual beli (AJB). Sama dengan PPh, BPHTB juga harus dibayarkan sebelum akta jual beli ditandatangani. BPHTB dikenakan bukan hanya pada saat terjadinya jual-beli, melainkan juga terhadap setiap perolehan hak atas tanah dan bangunan, seperti tukar-menukar, hibah, waris, pemasukan tanah ke dalam perseroan, dan lain-lainnya.

Pada transaksi jual-beli tanah atau rumah, yang menjadi subjek pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan itu, yaitu pembeli. Sementara itu, untuk proses lainnya seperti pewarisan yang harus membayarkan BPHTB adalah penerima waris. Jika ahli waris terdiri lebih dari satu orang, cukup dicantumkan nama salah satu ahli waris saja dengan menambahkan CS di akhir namanya. Dasar perhitungan BPHTB adalah nilai transaksi atau Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) dikurangi terlebih dahulu dengan Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP), kemudian dikalikan 5%. Besarnya NJTKP berbeda untuk tiap daerah, sebagai contoh untuk DKI Jakarta besaran NPOPTKP adalah Rp80 juta.

Untuk proses perolehan selain jual beli seperti tukar-menukar, waris, hibah, yang menjadi dasar perhitungan besarnya BPHTB adalah NJOP. Perhitungan besarnya BPHTB adalah nilai transaksi atau NJOP atau mana yang lebih besar. Khusus untuk perolehan hak secara waris terdapat pengurangan berupa NPOPTKP yang lebih besar, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sebagai contoh besarnya NPOPTKP untuk DKI Jakarta adalah Rp350 juta.

 

 

7. Biaya KPR

Biaya KPR

Biaya KPR  via primaradio.co.id

 

Berbeda halnya jika anda membeli rumah dengan cara tunai yang tidak akan menimbulkan biaya seperti jika membayar dengan cara kredit atau KPR. Apabila pendanaan yang Anda lakukan dengan cara KPR, akan timbul biaya tambahan seperti biaya provisi, administrasi, dan lainnya yang besar biayanya berkisar 4 sampai 5% dari total pinjaman (plafond) yang disetujui. Untuk biaya KPR sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab dari pihak pembeli.

 

 

8. Biaya Jasa Notaris

Biaya Jasa Notaris

Biaya Jasa Notaris via gazetroosendaal.nl

 

Kehadiran notaris dalam suatu kegiatan jual beli rumah dirasa mutlak adanya, karena setiap perjanjian yang dimaksudkan untuk menggadaikan, memindahkan hak, atau memberikan hak baru atas tanah harus dibuktikan dengan akta yang dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Akta ini juga diperlukan ketika seseorang hendak meminjam uang dengan melibatkan hak atas tanah sebagai tanggungannya.

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) atau yang lebih sering disebut notaris ini adalah satu-satunya pejabat yang berwenang dalam menentukan keabsahan suatu proses jual beli tanah ataupun rumah. Jadi kesimpulannya, peranan notaris dalam transaksi jual beli tanah adalah hal yang diharuskan dan sangat penting, terutama untuk pihak pembeli.

Menurut pasal 51 UUJN, notaris memiliki beberapa tugas pokok, diantaranya:

  • Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus (waarmerking);
  • Membuat salinan dari asli surat dibawa tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
  • Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya (legalisasi);
  • Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta;
  • Membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan;
  • Membuat akta risalah lelang;
  • Membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan ketik yang terdapat pada minuta akta atau akta yang ditandatangani para penghadap akta asli yang menyebutkan tanggal dan nomor BA pembetulan, dan salinan tersebut dikirimkan ke para pihak.

Biaya jasa notaris biasanya mencakup beberapa klasifikasi biaya, seperti biaya cek sertifikat, Biaya SK 59, Biaya validasi pajak, Biaya Akte Jual Beli (AJB), Biaya Balik Nama (BBN), biaya SKHMT, serta biaya APHT yang diperkirakan nilai masing-masingnya sebesar berikut ini:

  • Biaya cek sertifikat: Rp100.000
  • Biaya SK 59: Rp100.000
  • Biaya validasi pajak: Rp200.000
  • Biaya Akte Jual Beli (AJB): Rp2,4 juta
  • Biaya Balik Nama (BBN): Rp750.000
  • SKHMT (surat kuasa hak membebankan hak tanggungan): Rp250.000
  • APHT: Rp1,2 juta

Biaya-biaya tersebut jika ditotal nilainya mencapai Rp5 juta, namun beberapa notaris juga ada yang mematok harga di bawah atau di atas kisaran tersebut. Selain itu, ada juga notaris yang memilih membebankan biaya jasanya dengan perhitungan sebesar 0,5-1% dari nilai transaksi. Biaya ini kebanyakan ditanggung oleh pihak pembeli, karena pihak pembeli dirasa lebih berkepentingan. Meski begitu, biaya tersebut juga bisa dibagi rata pembayarannya dengan pihak penjual sebesar 50-50.

Selain itu, jika persyaratan transaksi yang dibutuhkan belum terlunasi, seperti pelunasan pajak rumah, air PAM, listrik dan iuran lainnya belum dibayarkan sampai serah terima, maka seluruh iuran tersebut masih menjadi tanggung jawab pihak penjual.

 

 

Sumber : https://www.cermati.com/artikel/biaya-biaya-yang-ada-dalam-proses-jual-beli-rumah

Simak Prediksi Tren Bisnis Properti di 2018

 

Perusahaan riset real estate JLL Research memprediksi volume transaksi properti atau real estate di Asia Pasifik tumbuh 5 persen berkisar US$ 135 miliar - US $ 140 miliar di 2018. Pendorongnya adalah momentum di pasar utama dan meningkatnya ketertarikan di pasar yang berkembang. India akan terus menjadi peringkat pertama di pasar berkembang bagi investor pada tahun 2018. Perkantoran level pertama dan sektor ritel India diproyeksi akan menghasilkan keuntungan tertinggi pada tahun 2018.

 

"Kami telah melihat akhir dari gangguan jangka pendek di India akibat reformasi seperti demonetisasi dan penerapan pajak barang & jasa. 2018 mungkin merupakan tahun bagi para investor untuk mempertimbangkan langkah strategis masuk ke pasar India, dengan adanya fundamental jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi yang positif," kata Megan Walters, Head of Research, JLL Asia Pacifik dalam keterangannya, Jumat (5/1/2018).

 

Dia menyebutkan, sejumlah transaksi besar real estate menjadi berita utama di tahun 2017. Hong Kong tercatat sebagai negara dengan transaksi tertinggi di dunia untuk penjualan satu blok kantor The Center seharga US$ 5,2 miliar. Adapula konglomerat hotel Accor juga mengakuisisi apartemen service milik Australian Mantra Group senilai US$ 1,2 miliar. Kemudian CapitaLand Investment Trust membeli Singapore Asia Square Tower 2 dengan harga US $ 1,5 miliar. Khusus di tahun depan, tutur dia, properti India akan menjadi sasaran utama bagi para investor global. Pemain besar menargetkan investasi real estate high-profile di India di tahun 2017, seperti GIC Singapura yang membeli 33 persen saham di sebuah unit DLF Cyber ​​City seharga US $ 1,4 miliar.

 

Kemudian anak perusahaan dari perusahaan asuransi global Allianz yang bergerak di sektor real estate juga mengumumkan kerjasamanya dengan perusahaan India, Sharpoorji Pallonji Group, untuk mengumpulkan dana senilai US$ 500 juta untuk menargetkan pasar perkantoran India. Sementara itu, investor Asia akan terus melakukan investasi di luar Asia pada tahun 2018 karena memiliki modal besar yang tidak dapat diserap oleh pasar lokal.

 

"Secara keseluruhan, investor dari Asia menghabiskan lebih dari US $ 26 miliar untuk properti di Amerika Serikat dan Eropa dalam tiga kuartal pertama tahun 2017," dia menambahkan.

 

Selain itu di tahun depan, dia melanjutkan sektor alternatif akan menjadi pilihan bagi investor real estate. Investor akan mencari peluang alternatif pada sektor real estate seperti perawatan lanjut usia/rumah jompo, perumahan siswa, pendidikan, pusat data, dan fasilitas penyimpanan/gudang pribadi, hal ini bertujuan untuk variasi dalam portofolio mereka, serta untuk pertumbuhan jangka panjang.

 

"Kami mengamati adanya peningkatan ketertarikan dan peluang yang besar untuk pilihan alternatif dari real estate. Permintaan pada sektor-sektor ini telah melebihi dari ketersediaan pasokan yang ada, dan permintaan dari segi demografis di wilayah tersebut telah berkembang dengan cepat. Hasil investasi dari fasilitas penyimpanan/gudang pribadi lebih menarik dibandingkan dengan kelas aset tradisional lainnya, berkisar dari lima sampai tujuh persen di Tokyo dan Singapura, lima sampai delapan persen untuk Australia, dan sekitar delapan persen di China dan India," kata Walters.

 

 

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/3215819/simak-prediksi-tren-bisnis-properti-di-2018

Tips Memilih Tempat Tinggal

 

Banyak hal penting yang patut dipertimbangkan ketika memilih lokasi untuk tempat tinggal. Aman dan nyaman, baik dalam rumah maupun lingkungan sekitar, tentu jadi syarat utama. Sebisa mungkin, jarak tempat tinggal dan tempat bekerja juga tidak jauh.

Dalam mencari lokasi yang tepat, ada beberapa tips untuk membantu Anda membuat keputusan yang tepat, di antaranya adalah berikut ini :

1. Kondisi Jalan Utama. Jalan utama menjadi titik akses penting menuju ke rumah Anda. Jika kondisinya penuh lubang, atau sulit dijangkau karena terlalu sempit untuk kendaraan, ada baiknya Anda mempertimbangkan lokasi lain untuk tempat tinggal.
 

2. Pelayanan Air, Listrik, dan Telepon. Layanan-layanan tersebut adalah syarat kelengkapan rumah. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan-layanan tersebut bisa jadi faktor pertimbangan. Contohnya: Anda tentu tidak mau membeli rumah di daearh rawan mati listrik.

 

3. Kebersihan Lingkungan. Bersih pangkal sehat. Apabila lingkungan tempat Anda tinggal tidak bersih, maka kesehatan Anda dan keluarga pun terancam. Apalagi mengingat keluarga Anda akan menghabiskan waktu lebih banyak di lingkungan ini. Perhatikan kebersihan di lingkungan sekitar, termasuk jarak dari rumah ke tempat pembuangan sampah sementara. Lihat juga ke saluran got. Apa mampat?

 

4. Polusi. Jika tingkat polusi udaranya di atas ambang batas, kesehatan pun akan terancam. Bagaimana cara mengetahui status polusi di suatu daerah? Sayangnya tidak ada informasi spesifik mengenai hal ini. Tapi, jika lokasi rumah terlalu dekat dengan jalan raya, kemungkinan Anda terkena dampak polusi lebih besar. Selain polusi udara, polusi suara juga dapat mengganggu ketenangan hidup di rumah.


5. Penghijauan. Lokasi yang lebih banyak penghijauannya tentunya lebih menarik. Penghijauan, selain menjaga kualitas udara, juga memberikan relaksasi untuk mata.

 

6. Bebas Banjir. Bebas banjir menjadi salah satu kriteria terpenting dalam menentukan lokasi rumah. Rutinitas rumah tangga dipastikan terganggu jika tempat tinggal dilanda banjir: Transportasi menjadi sulit dan barang-barang berharga pun rusak karena terendam air. Karenanya, pilihlah lokasi tempat tinggal yang tidak rawan banjir.

 

7. Kemudahan Transportasi. Walaupun rumah di jalan raya atau dekat jalan raya mungkin lebih berpotensi untuk terkena polusi, namun hal ini juga berarti jarak antara rumah Anda ke pusat transportasi juga lebih dekat. Tempat tinggal yang dekat stasiun, misalnya, dapat memberikan kemudahan bertransportasi jika kendaraan bermotor Anda bermasalah, atau jalanan rumah anda terlanda banjir.

 

8. Strategis. Strategis memang hal yang cenderung subjektif. Anda dapat menentukan sendiri apakah tempat tinggal mudah dijangkau Anda sendiri dan orang lain, atau dekat dengan tempat yang sering Anda kunjungi. Lokasi strategis artinya Anda leluasa melakukan kegiatan-kegiatan dengan efisien dan waktu agar Anda tidak sering kehilangan waktu di perjalanan.

 

9. Fasilitas umum. Fasilitas umum dapat berupa rumah sakit, apotek, pusat perbelanjaan, pusat olahraga, kantor pos, atau fasilitas lainnya yang akan membuat tempat tinggal Anda menjadi kota mandiri.

 

Semoga bermanfaat.. :) 

 

Sumber : https://www.rumah.com/panduan-dan-referensi/membeli-rumah/tips-memilih-tempat-tinggal